Macintosh Diary

This item was filled under [ Santai IT ]

Current Mood:Playful emoticon Playful & Playful emoticon Playful

26 Oktober 2009.

10.00 WIB. Ah,, Akhirnya selesai juga uts pemgraman komputer. Kali ini saya berencana bereksperimen dengan macintosh. Setelah ngobrol sedikit dengan kawan, saya memacu motor menuju kos. Tidak lupa mampir sebentar untuk membeli cemilan pengganjal perut.

10.30 WIB. Sampai di kos. Langsung saja kusiapkan laptop, dan dvd macintosh leopard x 10.5.5. Sebelum install mac os, saya siapkan dulu partisi baru yang diberi nama “Macintosh” berukuran sekitar 25 Gb. Setelah partisi beres, saya masukkan dvd mac os.  Tidak perlu menunggu lama untuk booting dan masuk ke mac os installer. Kesan pertama adalah putih (ciri khas mac os). Karena saya kira install mac os mirip dengan install Windows, Langsung saja saya klik “next” tanpa melihat keterangan yang tertulis. Sampai akhirnya muncul dialog box yang menanyakan dimana saya akan meletakkan mac os. Tetapi tidak satupun partisi yang muncul di dalam pilihan. Otak saya langsung menangkap ini pasti gara gara format Windows berbeda dengan mac.

Saya mencari sesuatu yang dapat digunakan untuk memecahkan masalah itu. Perhatian saya tertuju pada Tool yang bernama “Disk Utility”. Mungkin disitu ada setting untuk format partisi. Benar saja, ada pilihan “erase”. Saya klik tombol itu, dan pada pilihan “format” saya pilih “Mac OS Extended (Journaled)”. Sekarang Format partisi sudah benar.

Setelah memilih partisi, bagian berikutnya adalah customize. Saya memilih driver yang sekiranya dibutuhkan oleh notebook saya. Langkah berikutnya adalah installasi. Semuanya berjalan lancar. Setelah proses installasi selesai, saya  restart komputer.

Betapa kagetnya saya, karena yang muncul bukan layar putih bergambar apel di tengahnya, tetapi layar hitam bertuliskan “boot error”. Aduh,, apalagi ini. Saya coba install ulang lagi dari awal. Dan hasilnya… tetap sama.. Ah, sudahlah. Saya cari dulu jawabannya..

12.30 WIB. Saya menemukan jawabannya. Berbeda dengan Windows dan linux yang MBR nya sudah ter-setting secara otomatis, di mac os kita harus setting MBR secara manual. Kembali lagi booting dengan dvd mac os. Kemudian saya masuk ke terminal. Saya ketikkan perintah.

  1. fdisk -e /dev/rdisk0
  2. p
  3. f 4
  4. write
  5. update
  6. quit
  7. exit

Selesai. Sekarang tinggal boot lagi.. Saya menunggu dengan cemas. Daaan… yes,, macintosh sudah masuk ke dalam boot loader.. Tanpa membuang waktu, saya langsung masuk ke mac. Nice. Tampilannya yang putih elegan memanjakan mata saya. Kemudian saya cek drivernya satu satu. Driver wireless nya tidak terbaca, VGA terbaca tapi tidak dapat beresolusi maksimal, sound oke, LAN mantap, tapi kok notebook nya jadi panas ya.  Okelah,, 80 % sudah baik. Saya matikan notebook. Kemudian saya ambil air wudhu dan menunaikan ibadah shalat dhuhur.

13.05 WIB. Saya pacu motor saya menuju rumah teman. Saya ingin sharing ke teman saya. Mungkin saja saya dapat hal menarik lain tentang mac os. Tapi sebelumnya saya mampir dulu ke warteg andalan untuk mengisi perut. Setelah kenyang, saya melanjutkan perjalanan. Sampai di rumah teman, saya segera ceritakan pengalaman saya tadi. Kesimpulan yang dia ambil dari cerita saya antara lain:

  • Teman dia ada yang dapat kasus VGA nya tidak bisa beresolusi maksimal. Dan sampai sekarang dia belum tahu jawabannya.
  • Soal Driver wireless nya, mungkin DVD yang saya pakai tidak menyediakannya. Dia menawarkan DVD Mac Os Leopard X 10.5.7 kepada saya.
  • Soal panas yang berlebih, mungkin opsi “Remove Thermal” tidak dipilih.

Saya putuskan untuk install ulang lagi menggunakan DVD Mac Os Leopard X 10.5.7. 10.5.5 dan 10.5.7 mirip, bedanya 10.5.7 drivernya lebih komplit dan sudah menyediakan chameleon V2.0.

Proses installasi tidak memerlukan waktu yang lama. Setelah selesai, saya lakukan setting MBR seperti biasa. Dan seperti biasa pula terjadi error.. Haha.. apalagi ini.. Saya tanya teman saya, tetapi dia tidak tahu. Hmm,, iseng iseng saya masukkan DVD Mac Os Leopard X 10.5.5 dan setting MBR lewat DVD itu. Dan ternyata berhasil. Horee..  Tetapi (lagi-lagi) ada error ketika masuk mac.. Sesaat setelah masuk mac, muncul prompt untuk konfirmasi shut down. Saya ulangi install ulang lagi sampai 4 kali. Dan hasilnya sama saja. Aih,, payah.. Saya bingung, apa yang harus saya lakukan. Akhirnya dengan kecewa saya instal ulang (lagi) memakai DVD Mac Os Leopard X 10.5.5.

14.30 WIB. Installasi selesai. Tidak berbeda dengan install pertama tadi. VGA tidak dapat menampilkan resolusi maksimal. Driver Wireless tidak terpasang. Mending lah,, sekarang notebook saya tidak panas. Ya sudah.. Saya pamit pulang saja. Sesampainya di kos, saya langsung merebahkan diri di kasur dan tidur..

16.00 WIB. Bangun tidur kuterus mandi buka laptop. Saya coba install microsoft office 2008 for mac, adobe CS 3, dll. Sembari  menunggu proses installasi, saya shalat ashar, mandi, dan rileks sembari mendengarkan musik. Tepat adzan maghrib, proses instalalsi selesai. Laptop saya matikan. Kemudian saya ambil air wudhu, dan menunaikan shalat maghrib.

19.00 WIB. Setelah Istirahat, Shalat, dan makan, saya lanjutkan eksperimen. Kali ini saya mencoba koneksi internet menggunakan LAN. Setelah menancapkan kabel, secara otomatis mac menyetting IP address. Internet pun langsung bisa digunakan.

Browser yang saya gunakan adalah safari. Saya tidak terlalu suka tampilannya. Sebagai alternatif, saya mendownload dan menginstall Mozilla Firefox 3.5 dan opera 10. Saya coba bandingkan tampilannya, ternyata opera lah yang menang. Tampilannya paling enak dilihat. Soal kecepatan, koneksi dengan mac terasa lebih cepat daripada Windows. Penasaran dengan aplikasi apa saja yang bisa dipasang di mac, saya coba cari di kaskus. Ada beberapa yang saya kenal, ada beberapa yang tidak. Yang kenal, sudah pasti saya download.

Ada satu lagi yang mengganjal benak saya. Apa ada compiler pascal dan C di mac. Dan jawabannya adalah ada. Untuk pascal compilernya adalah free pascal for mac, sedangkan untuk C (katanya) bisa menggunakan XCode. Saya coba download dan install keduanya. Hasilnya…Gagal.. Hmm, mungkin ada setting yang saya belum tahu.. Ya sudahlah..

20.30 WIB. Eksperimen saya tentang mac os berakhir sudah. Kesimpulan yang saya dapat adalah

  • Install Mac OS tidak semudah install Windows atau Linux.
  • Mac OS enak dipakai untuk desain grafis dan internet (karena jarang ada virus yang menyerang mac).
  • Saya masih bingung tentang bagaimana coding di mac..
  • Saya putuskan memakai Windows untuk coding dan entertainment, dan memakai mac OS untuk desain dan online.

Sekian dari saya. Terima kasih telah meluangkan waktu untuk membaca curhat saya. Sampai jumpa.. Dadaah…

Signature

Posting Terkait

  • Tidak ada Posting Terkait
Tagged with: [ ]
You can follow any responses to this entry through the RSS 2.0 feed. You can leave a response, or trackback from your own site.

One Comment on “Macintosh Diary”

Apa Pendapat Anda??

CommentLuv Enabled